Mari bershadaqah (karena sebagian harta kita adalah hak mereka juga yang membutuhkan) Bank mandiri 1320012549953 atau rek. Bank BRI 040701000328307 a/n Yayasan Al Hilal. (shadaqah tidak akan membuat Anda miskin)

‘‘MELIHAT PAHALA SAAT SAKARATUL MAUT’’

Pahala dari apa yang kita perbuat ternyata akan diperlihatkan juga saat sakaratul maut. Begitu juga yang dialami oleh seorang sahabat Rasulullah SAW berikut ini.

Pada suatu saat Nabi Muhammad SAW didatangi oleh istri seorang sahabat yang baru saja meninggal dunia. Ia terlihat gundah gulana dan Rasul pun menanyakan hal apa yang membuat ia bingung.

Dan istri sahabat itu kemudian menceritakan penggalan² ucapan suaminya saat sakaratul maut.

"Ya Rasul, ia mengucapkan, Seandainya lebih panjang... Seandainya lebih panjang... Seandainya lebih panjang... kemudian terdiam... Tak lama kemudian suamiku berucap lagi, Seandainya yang baru... Seandainya yang baru... kemudian terdiam lagi. Tak lama berucap lagi, Seandainya semuanya... Seandainya semuanya...!!!"(jelas wanita itu.)

"Jangan resah, akan aku jelaskan maksud dari kata² suamimu...!!!" (jawab Rasulullah.)

Lalu Rasulullah menjelaskan.

Pertama.
Saat suaminya mengatakan seandainya lebih panjang, itu bermula saat suamimu pada suatu subuh sedang berjalan menuju masjid, ia mendapati seorang tua yang buta sedang berjalan tertatih² menuju masjid.

Melihat orang tua yang buta itu hatinya tersentuh, kemudian dengan sabar ia menuntun orang tua itu sampai ke masjid untuk shalat subuh berjamaah. Pahala atau ganjaran dari perbuatan baiknya itu ditampakkan di depan matanya saat ia sakaratul maut.

Karena begitu indahnya ganjaran itu, maka ia berucap,
"Seandainya lebih panjang... seandainya lebih panjang... maksudnya adalah seandainya lebih panjang lagi ia menuntun orang tua yang buta itu menuju masjid, maka ganjaran yang ia lihat saat sakaratul maut itu tentu lebih indah lagi...!!!"

Kemudian Rasulullah SAW melanjutkan penjelasannya.
Untuk yang kedua, suamimu mengucapkan "seandainya yang baru...!!!"
Ia mengucapkan itu karena ia teringat dengan perbuatannya pada suatu haru, ketika ia pulang dari membeli baju di pasar, ia bertemu dengan seorang miskin yang tidak memakai baju.

Melihat hal itu, tersentuhlah hatinya untuk memberikan bajunya. Maka suamimu itu segera menukar bajunya yang lama dengan yang baru, kemudian bajunya yang lama itu diberikan kepada orang miskin itu. Pahala atau ganjaran dari perbuatan baiknya itu ditampakkan di depan matanya saat sakaratul maut.

Karena begitu indahnya dengan yang dia lihat, ia berucap, "Seandainya yang baru... Seandainya yang baru...!!!"

Maksudnya adalah seandainya pakaian yang baru yang ia berikan kepada orang miskin itu, tentu ganjaran yang diperlihatkan padanya saat sakaratul maut tentu akan lebih indah lagi.

Rasul kembali menjelaskan, suatu hari sepulang dari bekerja, suamimu itu merasakan lapar dan dahaga. Lalu ia pun menuju tempat makan dan sesampainya di sana, ia pun telah siap duduk untuk menyantap hidangan makannya.

Saat ia hendak makan, terlihat seorang yang berpakaian lusuh dan wajahnya pun terlihat lesu. Ternyata orang tersebut adalah seorang pengemis yang lapar.

Sebenarnya, suamimu merasakan lapar yang sangat, hanya saja ia merasa iba dengan pengemis itu. Akhirnya dibagi dualah makanan yang hendak ia santap itu bersama si pengemis.

Pahala atau ganjaran dari perbuatan baiknya itu ditampakkan di depan matanya saat ia sakaratul maut. Karena begitu indahnya ganjaran yang ia terima karena membagi dua jatah makanan itu, maka ia berucap, "Seandainya semuanya... Seandainya semuanya...!!!"

Maksudnya adalah seandainya ia memberikan semua jatah makanannya kepada pengemis itu, tentu ganjaran yang diperlihatkan kepadanya saat sakaratul maut akan lebih indah lagi dari pada yang ia dapat...!!!

Setelah mendengar penjelasan panjang dari Nabi Muhammad SAW itu, maka hilanglah kegelisahan hati sang istri sahabat.

Ia bergembira karena ternyata suaminya banyak mendapat kabar gembira saat menghadapi sakaratul maut. Subhanallah...

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2012 ISLAM AGAMAKU / Template by : Urangkurai